Minggu, Januari 18, 2009

Hifdzul Qur'an dan pengaruhnya dalam kehidupan (Jefriadi)

Al-Qur'an adalah Kalamullah (perkataan) Allah SWT yang dirurunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril yang apa bila kita membacanya akan mendapatkan pahala. Al-Qur'an adalah anugerah yang terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia, yang didalamnya terdapat berbagai macam-macam aturan-aturan/undang-undang yang menjadi pedoman bagi hidup dan kehidupan manusia.
Al-qur'an terjaga kemurniannya sepanjang masa, bahkan sebelum Al-Qur'an di bukukan, cara yang ditempuh oleh kaum muslimin untuk menjaga kemurnian Al-quran adalah dengan cara menghafalnya, jadi disini terlihat fenomena menghafal Al-qur'an sedah ada sejak dulu. Iman Syafi'I sendiri dalam usia 9 (sembilan) tahun sudah menghafal seluruh isi Al-qur'an dengan lancar. Ada lagi seorang Dia seorang anak Iran, yang dikaruniai Allah karunia terindah, kemampuan hafal dan memahami Al-Qur'an di usia yang sangat belia. Di usia 5 tahun, Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i sudah bisa menghafal seluruh isi Al-Qur'an dan menerjemahkannya, ia bisa memahami makna ayat-ayat tersebut dan ia sering menggunakannya dalam perrcakapannya sehari-hari. Kefahaman atas Al-Quran tersebut menjadikan ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang Allah telah firmankan dalam Al-Qur'an, pun ia bisa menjelaskan suatu ayat dalam Al-Qur'an dengan ayat yang lainnya.
“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya.” (QS Al-Hijr: 15)
Demikian Allah subhaanahu wata’aala berfirman, dan kebenaran mutlak atas firmanNya. Al Quran yang telah diturunkan akan senantiasa dijaganya, tiada satu makhlukpun yang berkuasa untuk menghapus hukumnya dan menghilangkan pengaruhnya dari jiwa hamba-hamba-Nya yang suci. Dia yang membuat aturan dan undang-undang dasar hidup makhluknya. Maka hanya Dia pula yang memiliki kuasa untuk menghancurkannya atau mengokohkannya.


Menghafal qur'an pada zaman sekarang ini sudah fenomenal, dapat kita lihat berbagai pondok Pesantren yang membuka program tahfiz qur'an, masjid-masjid dengan LTTQ nya atau lembaga keagamaan lainnya yang menyelenggarakan kegiatan yang sama. Pemerintah sendiri juga dengan rutin mengadakan Musabaqoh hifzdul qur'an dengan tujuan untuk memelihara kemurnian Al-qur'an.
Dari fenomena diatas yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah ada pengaruh menghafal qur'an dalam kehidupan?
Menghafal Al-qur'an suatu ibadah yang sangat mulia disis Allah SWT. Jangankan menghafal, membacanya saja kita sudah mendapatkan pahala. Menghafal Al-qur'an berarti kita membaca plus menghafalnya.
Orang yang menghafal qur'an tentunya dengan kesungguhan dan niat yang benar akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya, dan akan terarah hidupnya. Sebagaimana di firman kan Allah dalam Al-qur'an:
"Katakanlah bagi orang-orang (Al-qur'an) itu adalah sebgai obat dan petunjuk"
Fungsi Tahfizh al-Qur’an
Pada zaman Nabi materi utama ilmu yang dipelajari oleh para sahabat adalah al-Qur’an, baru kemudian hadits. Tolok ukur keilmuan seorang sahabat pada masa itu adalah sejauh mana seseorang menguasai al-Qur’an, baik dari segi bacaan maupun pemahaman kandungannya. Seseorang yang menguasai al-Qur’an disebut ‘qurra’ dan memperoleh kehormatan lebih tinggi di banding yang lain. Kedudukan qurra’ yang demikian pada masa berikutnya biasa disebut sebagai fuqaha atau ulama. Ketika Nabi hendak mengirim seorang utusan ke suatu wilayah, maka beliau akan memilih sahabat yang paling banyak hafalan al-Qur’annya. Begitu juga untuk memimpin shalat jama’ah, Nabi bersabda : “Hendaklah memimpin shalat orang banyak seorang yang paling banyak hafalan (dalam riwayat lain aqrauhum, paling bagus bacaan)-nya dari al-Qur’an”. Ketika seorang sahabat hendak menikahi seorang wanita, Nabi menikahkannya dengan mahar hafalan al-Qur’an. Bahkan ketika hendak mengubur syuhada Uhud, Nabi memerintahkan untuk mendahulukan sahabat yang paling banyak hafalannya.
Bila secara nyata Nabi telah menunjukkan ketinggian derajat para huffazh al-Qur’an, maka melalui beberapa hadits Nabi menyatakan keutamaan huffazh al-Qur’an, antara lain : huffazh al-Qur’an adalah keluarga Allah yang khusus (ahlullah wa khaasshatuh), mereka akan memperoleh kedudukan setinggi (sebanyak) ayat yang dia baca, akan diberi pahala dari setiap huruf yang dibaca sepuluh kebajikan. Dalam hadits yang diriwayatkan al-Baihaqi dari Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash bahwa seseorang yang hafal al-Qur’an maka dia telah mengemban perkara besar dan menempati derajat kenabian, hanya saja dia tidak menerima wahyu. Karenanya ia tidak boleh melakukan penyimpangan dan membiarkan diri dalam kebodohan sebab al-Qur’an ada dalam dirinya.
Fungsi huffazh yang lain pada masa Nabi bahwa mereka menjadi penjaga kemurnian (otentisitas) al-Qur’an. Ketika Zaid ibn Tsabit mengumpulkan al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar maupun Khalifah Utsman ibn Affan, maka sebagai dasar dari pengumpulan dan penulisan itu ada dua, yaitu : tulisan atau catatan yang berserakan di pelepah kurma, kulit atau tulang, serta hafalan para huffazh.

Read More......

Masalah Lagi... Masalah Lagi (Laily Hidayati)

“Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”, bisa juga “Kayanya masalah ku ga’ selesai-selesai dech, satu masalah belum beres, eeh dateng lagi yang baru”, “Aku udah muak dan bosen dengan semua masalah ini” dan keluhan-keluhan lainnya saat kita dihadapkan oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.


Bukanlah hidup namanya, kalau tidak ber-masalah. Bukanlah orang dibilang sukses, kalau tidak sanggup menghadapi berbagai rintangan. Bukanlah disebut menang, kalau tidak dibuktikan dengan pertarungan. Bukanlah disebut lulus, kalau tidak mengikuti ujian. Bukanlah dibilang berhasil kalau tidak berusaha.
Sebagai manusia sering sekali kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh atas apa yang menimpa kita yang tidak sesuai dengan harapan. Namun tidak jarang juga kita terhanyut dengan kegembiraan yang melenakan saat semua sesuai dengan yang kita harapkan. Kita sering lupa bahwa kehidupan itu ibarat putaran roda yang semua yang kita rasa tidaklah selamanya. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Hari ini kita sedih, besok kita bahagia. Terus menerus silih berganti hingga akhirnya kita akan mati.
Allah berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: ‘Kamu telah beriman’, sedangkan mereka dibiarkan tidak dicobai lagi? (tidak bermasalah). Dan sesungguhnya kami (Allah) telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar (beriman) dan Allah juga mengetahui siapa orang-orang yang berdusta.” (QS. Al Ankabut: 2-3)

Pada dasarnya ujian Allah ada dua macam:
1. Cobaan yang tidak mengenakan/ tidak sesuai dengan harapan
2. Cobaan yang menyenangkan/ sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sadar atau tidak terkadang dalam benak kita tersirat untuk lari dari apa yang sedang kita hadapi. Namun itu bukanlah solusi. Karena permasalahan bukanlah untuk kita hindari akan tetapi untuk kita selesaikan dengan mencari jalan keluarnya.
Dalam psikologi, seseorang akan selalu menemukan permasalahan ketika ia akan mengalami perkembangan dalam dirinya. Permasalahan yang kita temui dapat melatih serta membantu kita untuk melangkah ketugas perkembangan berikutnya. Permasalahan dapat membuat kita semakin dewasa apabila kita berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik dengan berbagai resiko yang akan dihadapi. Sehingga kita sudah siap saat kita menemukan permasalahan yang sama atau mungkin lebih besar di kemudian hari. Namun apabila kita berusaha untuk lari tanpa berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka kita tidak akan dapat melanjutkan tugas-tugas perkembangan kita ke tahap yang selanjutnya dengan baik. Kita terus lari dan berlari saat permasalahan itu datang kembali, hingga tanpa kita sadari bahwa kita telah terjebak dan bahkan tertinggal dengan yang lainnya.
Ujian atau masalah yang kita temui bukanlah tanda Allah membenci kita, akan tetapi justru kebalikkannya. Apabila Allah menyukai suatu kaum, maka akan diuji dengan kesenangan atapun dengan kesedihan. Allah ingin menjadikan kita kuat dalam menghadapi kehidupan. Bukan hamba yang lemah yang hanya bisa mengeluh, berpangku tangan atau bahkan lari dari kehidupan. Kuat bukan berarti yang berotot, bertenaga atau yang lainnya. Kuat disini adalah ketika kita dihadapkan dengan kebahagiaan kita tidaklah terlena, namum bersyukur dengan apa yang diberikan Allah. Dan apabila diberikan kesedihan maka ia akan bersabar dan hanya mengharap pertolongan-Nya.
Kita akan tahu persis harga sebuah kenikmatan, manakala kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan. Dan cobaan itu adalah rahmat untuk sadar dan kembali kepada Allah. Permasalahan itu sendiri hakikatnya adalah bumbu kehidupan yang memperlezat kenikmatan. Bagi orang yang beriman, semua permasalahan bagus baginya. Dengan ada masalah itu, maka hidup akan menjadi lebih dinamis, tidak beku dan mati. Dengan bermasalah, dunia ini akan terasa indah, selama dihadapi dengan T.O.P.P (Tegar, Optimis, Prima, Percata diri) dan didasari dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kalau gitu, gimana sich seharusnya cara kita untuk menyingkapinya?
Yang harus kita yakini dan kita tanamkan dalam diri kita adalah:
Cobaan/masalah yang kita terima bukanlah siksaan, tetapi sebuah ujian untuk meningkatkan keimanan.
Rosulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya cobaan/bala bencana yang menimpa orang yang beriman itu bukanlah untuk menyiksa (menghancurkan), tetapi ia datang untuk mengujinya”.

Jangan berputua asa, semua persoalan pasti ada jawabannya, dan semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah:6)
Dan…
“Allah tidak akan membebankan suatu kaum, melebihi batas kemampuannya”. (Albaqarah: )

Oleh karena itu, setiap permasalahan yang kita temui sebetulnya kita dapat selesaikan. Akan tetapi sebagai manusia kita lebih sering mengeluh dan berputus asa. Sedangkan Allah maha mengetahui hamba-Nya.

Semua yang menimpa orang yang beriman itu pasti bagus dan berpahala.
Rosulullah saw bersabda:
“Menakjubkan jiwa orang yang beriman, sungguh semua urusan selalu baik baginya, jika mendapat kebaikan ia bersyukur dan jika tertimpa cobaan ia bersabar (diampuni dosa dan pahala dialirkan)”.

Jangan berburuk sangka kepada Allah SWT. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:
“Aku (Allah) tergantung bagaimana hambaku menyangka”
Maksudnya kalau kita yakin Allah itu Maha pemurah, maka kita akan diberikan kemurahan-Nya. Kalau kita menyangka Allah membuat kejelekan kepada kita, maka kejelekan pasti akan menimpa kita.


Setiap Masalah, Ada Jalan Keluarnya
Dalam Setiap Cerita, Pasti Ada Hikmahnya

Read More......

Minder Oohhh...No!! (Laily Hidayati)

“G’ mau ah!! Aku ga bisa!!” atau “Mereka hebat ya, ga’ kaya aku!!” bahkan “Aku kan ga bisa apa-apa!”

Sadar atau tidak ungkapan-ungkapan itu pasti pernah terucap dari diri kita, ya paling engga di dalam hati gitu….!! Hayoo… jujur ja dech!! Nah… itu adalah perasaan negatif yang ada pada diri kita. Karena perasaan yang ada dalam diri kita dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama, perasaan positif yang diharapkan keberadaannya, ia akan menguatkan rasa percaya diri kita. Dan dengan itu kita juga akan memperoleh kepercayaan dari orang lain. Kedua, perasaan negatif yang tidak diharapkan keberadannya. Ia akan meruntuhkan rasa percaya diri kita. Karenanya, kita harus berusaha keras untuk menjauhinya.
Percaya Diri merupakan kunci sukses dalam hidup. Karenanya membuat hidup kita menjadi sehat, cerdas dan berani. Analisa menajam. Kebijaksanaan, semangat dan daya kreativitas menghujam. Kegigihan untuk menemukan kebenaran dalam berbagai hal akan terus berkorbar. Matangnya jiwa dan budi pekerti yang disertai sikap rendah diri, toleran elegan, dan tenang dalam menyingkapi berbagai masalah, akan selalu mewarnai kehidupan kita. Tapi…….!!! Tanpanya, kita ga’ kan bisa meraup kesuksessan dalam pergaulan. Tanpanya pula, kita tidak akan bisa mewujudkan harapan yang ditargetkan. Bahkan sebaliknya, semangat akan melemah dan kreativitas akan mengendur ke titik yang mengkhawatirkan. Wa…….h bahaya kan???
Alfred Adler dalam teorinya ia meyakini bahwa individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior. Inferiorita bagi Adler diartikan sebagai perasaan lemah dan tidak cakap dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Inferiorita merupakan suatu perasaan yang menggerakkan orang untuk berjuang menjadi superiorita. Manusia pada dasarnya dibedakan menjadi dua golongan. Yang pertama adalah individu yang neurotik atau patologis. Menurut Adler, individu yang neurotik mengembangkan perasaan inferiorita yang berlebihan dan mengkompensasikannya dengan membuat tujuan menjadi superiorita personal. Golongan kedua merupakan individu yang sehat. Individu yang sehat bagi Adler adalah individu yang dimotivasi oleh perasaan inferiority yang normal disertai dengan minat sosial yang tinggi. Orang yang normal berjuang menjadi sukses dengan mengacu pada kejayaan pribadi dan kebahagiaan setiap orang yang ada di lingkungan sosialnya.
Sekarang daripada kita minder terus-terusan yang akan buat kita makin ketinggalan mendingan kita jadikanlah perasaan itu sebagai pendorong kita untuk menjadi sosok yang lebih baik. Lebih dari itu, kita harus menghadapinya dengan melakukan hal-hal yang positif. Tapi tetep harus ingat jangan sampai berlebihan, sebab walaupun itu positif bila berlebihan akan buruk akibatnya. N’ Allah juga tidak suka dengan hambanya yang berlebih-lebihan, firman Allah:

”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-Araf:26)
Tunggu apa lagi!!! Ayo,,, mulai detik ini kita akan berubah, tentunya ke arah yang lebih baik! Seperti pada hadits Nabi bahwasanya orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Pastinya maukan jadi orang yang beruntung?? Yakinkan pada diri kita sendiri bahwa “Aku Pasti Bisa, untuk berubah!!” and jangan lupa “Berdo’a, Berusaha, Berhasil”….

Read More......