Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 09, 2009

Mengelola Amarah

Apa itu amarah?
Dalam pandangan psikologi amarah adalah salah satu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di keluarga, atau pun hubungan interpersonal.
Mengapa seseorang menjadi marah?
Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi marah. Pertama, faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri sendiri, seperti terhambatnya pekerjaan, kemacetan lalu lintas. Kedua, faktor internal yang berasal dari dalam individu tersebut yang dapat memicu amarah, seperti ketakutan terhadap sesuatu, ketidakmampuan individu dalam melakukan interaksi, atau adanya pengalaman pahit di masa lalu (traumatik) yang akhirnya membangkitkan amarah.
Mengendalikan Amarah
Beberapa hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk mengendalikan amarah:
1. Relaksasi
Melakukan relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan kata-kata: “relaks; tenang aja; take it easy; gak apa-apa kok”.
2. Mengubah Cara Pandang
Individu yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan mengucapkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedang marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang rasional. Contoh: daripada anda mengatakan: “ah, ini sangat mengerikan, hancur semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya”, cobalah mengubahnya dengan : “ya memang hal ini membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya bagi saya dan kemarahan tidak akan mengubah apa-apa”.
Mengingat bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka untuk mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir logis (bisa mempertimbangkan akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka akan semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda bahwa apa yang sedang terjadi pasti tidak hanya dialami oleh anda seorang diri dan dunia tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang terjadi hanyalah merupakan suatu “tinta merah” dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat pandangan yang lebih seimbang.
3. Selesaikan Masalah secara Tuntas
Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang dari dalam diri seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik jika anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara mungkin dan tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan tanpa campurtangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang.
4. Melatih cara Berkomunikasi
Dalam banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam berkomunikasi. Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan pendapat, tidak bersedia menjadi pendengar atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang yang marah cenderung mengambil kesimpulan secara cepat dan kesimpulan tersebut seringkali aneh dan tak terduga.
Meskipun setiap individu berhak untuk membela diri ketika dikritik atau diajak adu argumentasi, namun untuk itu diperlukan ketenangan dan sikap untuk tidak merespon secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, bahkan ketika orang tersebut mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan anda. Hal ini memang memerlukan kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika tidak timbul amarah dalam diri anda maka situasi yang ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda menjadi lebih matang dalam berkomunikasi.
5. Mengubah Lingkungan
Apa yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari lingkungan yang tidak menyenangkan atau keluar dari lingkungan tersebut untuk sementara waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada, maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap bekerja tanpa marah-marah.
6. Melakukan Konseling
Mengingat bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui bantuan para profesional ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu saja hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu akan membantu anda menjadi lebih baik.
Selain hal-hal di atas, masih banyak cara-cara lain dalam mengelola amarah. Salah satu yang paling penting adalah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah swt. Karena terkadang ketidakmampuan seseorang mengendalikan amarahnya disebabkan adanya ketidakharmonisan hubungan kita dengan Allah SWT. Jadikan Ramadhan ini sebagai momentum kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga menjadikan kita pribadi yang kokoh dan mampu mengendalikan amarah dengan benar.
(END)`

Read More......

Minggu, Januari 18, 2009

Prestasi Tak Boleh Mati

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya….” (Al-Anfal: 60)
Betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Nikmat-Nya tak pernah bertepi. Malam datang dengan keindahan, gelap pun memberikan ketenangan dan kesejukan. Pagi yang segar menyudahi malam nan damai. Siang datang melambai, menawarkan harapan.
Seperti itulah dunia berputar. Silih berganti siang menggantikan malam. Waktu terus berlalu, mencatat prestasi dari generasi kegenerasi. Ada yang tetap istiqamah menapaki jalan dakwah nan terjal dan bebatuan, sabar dengan terpaan asap dan debu-debu peradaban. Tapi, tak sedikit yang akhirnya duduk bersandar melepas lelah. Seraya matanya mulai memejam terhadap keculasan manusia sekitar.
Usahakan untuk memberi sesuatu yang terbaik
Di antara ciri kekikiran yang mungkin sempat melekat dalam hati hamba Allah adalah sedikit mengeluarkan, tapi ingin banyak menerima. Mungkin ini bisa cocok buat bisnis sesama manusia. Tapi, tidak akan pas jika ditujukan pada bisnis dengan Allah swt.
Kebodohan adalah hal dominan yang menjadikan manusia berpikir sempit soal bisnis dengan Allah swt. Pandangannya terbatas hanya pada takaran materi dengan ruang lingkup duniawi yang sempit. Tidak heran jika ada manusia yang merasa tidak perlu untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat bisnis di jalan Allah. Tidak jarang, jatah infak dan sedekah selalu jatuh pada porsi sisa, uang yang kumal, dan sedikit sobek.
Seperti itulah ajakan Allah swt. buat hamba-hamba Allah yang cerdas.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu bisnis yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.”(Ash-Shaff: 10-11)
Surga adalah tawaran yang teramat luar biasa yang diberikan oleh yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kenikmatan apa pun yang pernah tersedia di dunia ini sedikit pun tak akan pernah menyamai nikmatnya surga. Seperti itulah rincian-rincian tentang keberadaan surga yang Allah paparkan dalam Al-Quran: makanan terbaik, minuman terbaik, pasangan terbaik, tempat tinggal terbaik; buat selama-lamanya.
Lalu, apakah belum juga kita merasa malu dengan berharap, bahkan begitu percaya diri, bisa masuk surga hanya dengan beberapa koin, uang kumal, tenaga sisa, dan prestasi kerja ala kadarnya.
Sepantasnyalah kita malu dengan teguran Allah dalam firman-Nya di surah Al-Baqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?….”
Mungkin, kita lupa kalau segala keutamaan yang kita berikan dalam jalan Allah, sama sekali tak mempengaruhi kerajaan Allah swt. Allah sudah teramat kaya dibanding nilai apa pun di alam raya ini. Dunia buat Allah tak senilai sayap nyamuk. Justru keutamaan dan nilai unggul yang dikeluarkan, semuanya akan kembali buat hamba-hamba Allah itu sendiri. Langsung, atau tertunda.
Jangan mudah dipermainkan angan-angan
Merasa paling berjasa, paling banyak amal adalah di antara tanda tergiringnya seorang hamba Allah pada jurang kebinasaan. Karena mulai dari sinilah produktivitas kerja dakwahnya mulai berkurang, dan akhirnya mati. Ia merasa cukup menjadi orang-orang yang pernah beramal. Bukan menjadi orang-orang yang senantiasa beramal.
Maha bijaksana Allah dengan pelajaran yang termuat dalam surah Al-Kahfi ayat 103 dan 104. “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”
Setan senantiasa menghembuskan semangat keliru tentang itu. “Anda tergolong aktivis senior. Amal Anda sudah tak lagi bisa terhitung. Begitu banyak. Tak seorang pun bisa menyamai nilai dan jumlah amal Anda. Yakinlah, dengan prestasi itu saja, Anda pasti masuk surga. Cukup. Kini, saatnya Anda istirahat dari pentas dakwah. Saatnya junior mengambil alih beban-beban Anda. Anda teramat mulia untuk mengerjakan program-program teknis…,” begitulah kira-kira hembusan jahat setan yang terus-menerus mengintai peluang. Sejenak hamba Allah lengah, saat itu juga ia masuk. Na’udzubillah min dzalik.
Yakinlah bahwa balasan Allah adalah yang terbaik
Untung rugi memang hal lumrah dalam hitung-hitungan bisnis. Kalau terus untung bisnis bisa berkembang, dan terus rugi bisnis jatuh ambruk. Hitung-hitungan untung rugi selalu berkait dengan urusan materi. Karena itulah ruang lingkup bisnis. Tak akan bisa lepas dengan yang namanya materi.
Itulah, mungkin, kenapa Allah swt. memberikan penjelasan rinci soal pahala. Seperti apakah akumulasi pahala yang diberikan Allah sebagai ganjaran buat hamba-hamba-Nya yang sukses dalam bisnis ini. Nilai tukarnya begitu jelas. Surga tergambar rinci dalam Al-Quran.
Tanpa sadar oleh manusia, sebenarnya ganjaran sudah Allah berikan di dunia ini. Adakah yang lebih mahal di dunia ini daripada pasangan yang saleh dan salehah. Adakah yang lebih berharga di dunia ini daripada anak-anak yang taat pada orangtuanya. Adakah yang lebih berharga di dunia ini dibanding rekan-rekan seperjuangan yang dipersaudarakan oleh Allah. Adakah yang lebih nikmat di dunia ini dibanding ketenangan hidup bersama keimanan. Dunia menjadi miniatur surga.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

Read More......

Masalah Lagi... Masalah Lagi (Laily Hidayati)

“Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”, bisa juga “Kayanya masalah ku ga’ selesai-selesai dech, satu masalah belum beres, eeh dateng lagi yang baru”, “Aku udah muak dan bosen dengan semua masalah ini” dan keluhan-keluhan lainnya saat kita dihadapkan oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.


Bukanlah hidup namanya, kalau tidak ber-masalah. Bukanlah orang dibilang sukses, kalau tidak sanggup menghadapi berbagai rintangan. Bukanlah disebut menang, kalau tidak dibuktikan dengan pertarungan. Bukanlah disebut lulus, kalau tidak mengikuti ujian. Bukanlah dibilang berhasil kalau tidak berusaha.
Sebagai manusia sering sekali kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh atas apa yang menimpa kita yang tidak sesuai dengan harapan. Namun tidak jarang juga kita terhanyut dengan kegembiraan yang melenakan saat semua sesuai dengan yang kita harapkan. Kita sering lupa bahwa kehidupan itu ibarat putaran roda yang semua yang kita rasa tidaklah selamanya. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Hari ini kita sedih, besok kita bahagia. Terus menerus silih berganti hingga akhirnya kita akan mati.
Allah berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: ‘Kamu telah beriman’, sedangkan mereka dibiarkan tidak dicobai lagi? (tidak bermasalah). Dan sesungguhnya kami (Allah) telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar (beriman) dan Allah juga mengetahui siapa orang-orang yang berdusta.” (QS. Al Ankabut: 2-3)

Pada dasarnya ujian Allah ada dua macam:
1. Cobaan yang tidak mengenakan/ tidak sesuai dengan harapan
2. Cobaan yang menyenangkan/ sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sadar atau tidak terkadang dalam benak kita tersirat untuk lari dari apa yang sedang kita hadapi. Namun itu bukanlah solusi. Karena permasalahan bukanlah untuk kita hindari akan tetapi untuk kita selesaikan dengan mencari jalan keluarnya.
Dalam psikologi, seseorang akan selalu menemukan permasalahan ketika ia akan mengalami perkembangan dalam dirinya. Permasalahan yang kita temui dapat melatih serta membantu kita untuk melangkah ketugas perkembangan berikutnya. Permasalahan dapat membuat kita semakin dewasa apabila kita berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik dengan berbagai resiko yang akan dihadapi. Sehingga kita sudah siap saat kita menemukan permasalahan yang sama atau mungkin lebih besar di kemudian hari. Namun apabila kita berusaha untuk lari tanpa berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka kita tidak akan dapat melanjutkan tugas-tugas perkembangan kita ke tahap yang selanjutnya dengan baik. Kita terus lari dan berlari saat permasalahan itu datang kembali, hingga tanpa kita sadari bahwa kita telah terjebak dan bahkan tertinggal dengan yang lainnya.
Ujian atau masalah yang kita temui bukanlah tanda Allah membenci kita, akan tetapi justru kebalikkannya. Apabila Allah menyukai suatu kaum, maka akan diuji dengan kesenangan atapun dengan kesedihan. Allah ingin menjadikan kita kuat dalam menghadapi kehidupan. Bukan hamba yang lemah yang hanya bisa mengeluh, berpangku tangan atau bahkan lari dari kehidupan. Kuat bukan berarti yang berotot, bertenaga atau yang lainnya. Kuat disini adalah ketika kita dihadapkan dengan kebahagiaan kita tidaklah terlena, namum bersyukur dengan apa yang diberikan Allah. Dan apabila diberikan kesedihan maka ia akan bersabar dan hanya mengharap pertolongan-Nya.
Kita akan tahu persis harga sebuah kenikmatan, manakala kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan. Dan cobaan itu adalah rahmat untuk sadar dan kembali kepada Allah. Permasalahan itu sendiri hakikatnya adalah bumbu kehidupan yang memperlezat kenikmatan. Bagi orang yang beriman, semua permasalahan bagus baginya. Dengan ada masalah itu, maka hidup akan menjadi lebih dinamis, tidak beku dan mati. Dengan bermasalah, dunia ini akan terasa indah, selama dihadapi dengan T.O.P.P (Tegar, Optimis, Prima, Percata diri) dan didasari dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kalau gitu, gimana sich seharusnya cara kita untuk menyingkapinya?
Yang harus kita yakini dan kita tanamkan dalam diri kita adalah:
Cobaan/masalah yang kita terima bukanlah siksaan, tetapi sebuah ujian untuk meningkatkan keimanan.
Rosulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya cobaan/bala bencana yang menimpa orang yang beriman itu bukanlah untuk menyiksa (menghancurkan), tetapi ia datang untuk mengujinya”.

Jangan berputua asa, semua persoalan pasti ada jawabannya, dan semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah:6)
Dan…
“Allah tidak akan membebankan suatu kaum, melebihi batas kemampuannya”. (Albaqarah: )

Oleh karena itu, setiap permasalahan yang kita temui sebetulnya kita dapat selesaikan. Akan tetapi sebagai manusia kita lebih sering mengeluh dan berputus asa. Sedangkan Allah maha mengetahui hamba-Nya.

Semua yang menimpa orang yang beriman itu pasti bagus dan berpahala.
Rosulullah saw bersabda:
“Menakjubkan jiwa orang yang beriman, sungguh semua urusan selalu baik baginya, jika mendapat kebaikan ia bersyukur dan jika tertimpa cobaan ia bersabar (diampuni dosa dan pahala dialirkan)”.

Jangan berburuk sangka kepada Allah SWT. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:
“Aku (Allah) tergantung bagaimana hambaku menyangka”
Maksudnya kalau kita yakin Allah itu Maha pemurah, maka kita akan diberikan kemurahan-Nya. Kalau kita menyangka Allah membuat kejelekan kepada kita, maka kejelekan pasti akan menimpa kita.


Setiap Masalah, Ada Jalan Keluarnya
Dalam Setiap Cerita, Pasti Ada Hikmahnya

Read More......

Minder Oohhh...No!! (Laily Hidayati)

“G’ mau ah!! Aku ga bisa!!” atau “Mereka hebat ya, ga’ kaya aku!!” bahkan “Aku kan ga bisa apa-apa!”

Sadar atau tidak ungkapan-ungkapan itu pasti pernah terucap dari diri kita, ya paling engga di dalam hati gitu….!! Hayoo… jujur ja dech!! Nah… itu adalah perasaan negatif yang ada pada diri kita. Karena perasaan yang ada dalam diri kita dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama, perasaan positif yang diharapkan keberadaannya, ia akan menguatkan rasa percaya diri kita. Dan dengan itu kita juga akan memperoleh kepercayaan dari orang lain. Kedua, perasaan negatif yang tidak diharapkan keberadannya. Ia akan meruntuhkan rasa percaya diri kita. Karenanya, kita harus berusaha keras untuk menjauhinya.
Percaya Diri merupakan kunci sukses dalam hidup. Karenanya membuat hidup kita menjadi sehat, cerdas dan berani. Analisa menajam. Kebijaksanaan, semangat dan daya kreativitas menghujam. Kegigihan untuk menemukan kebenaran dalam berbagai hal akan terus berkorbar. Matangnya jiwa dan budi pekerti yang disertai sikap rendah diri, toleran elegan, dan tenang dalam menyingkapi berbagai masalah, akan selalu mewarnai kehidupan kita. Tapi…….!!! Tanpanya, kita ga’ kan bisa meraup kesuksessan dalam pergaulan. Tanpanya pula, kita tidak akan bisa mewujudkan harapan yang ditargetkan. Bahkan sebaliknya, semangat akan melemah dan kreativitas akan mengendur ke titik yang mengkhawatirkan. Wa…….h bahaya kan???
Alfred Adler dalam teorinya ia meyakini bahwa individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior. Inferiorita bagi Adler diartikan sebagai perasaan lemah dan tidak cakap dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Inferiorita merupakan suatu perasaan yang menggerakkan orang untuk berjuang menjadi superiorita. Manusia pada dasarnya dibedakan menjadi dua golongan. Yang pertama adalah individu yang neurotik atau patologis. Menurut Adler, individu yang neurotik mengembangkan perasaan inferiorita yang berlebihan dan mengkompensasikannya dengan membuat tujuan menjadi superiorita personal. Golongan kedua merupakan individu yang sehat. Individu yang sehat bagi Adler adalah individu yang dimotivasi oleh perasaan inferiority yang normal disertai dengan minat sosial yang tinggi. Orang yang normal berjuang menjadi sukses dengan mengacu pada kejayaan pribadi dan kebahagiaan setiap orang yang ada di lingkungan sosialnya.
Sekarang daripada kita minder terus-terusan yang akan buat kita makin ketinggalan mendingan kita jadikanlah perasaan itu sebagai pendorong kita untuk menjadi sosok yang lebih baik. Lebih dari itu, kita harus menghadapinya dengan melakukan hal-hal yang positif. Tapi tetep harus ingat jangan sampai berlebihan, sebab walaupun itu positif bila berlebihan akan buruk akibatnya. N’ Allah juga tidak suka dengan hambanya yang berlebih-lebihan, firman Allah:

”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-Araf:26)
Tunggu apa lagi!!! Ayo,,, mulai detik ini kita akan berubah, tentunya ke arah yang lebih baik! Seperti pada hadits Nabi bahwasanya orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Pastinya maukan jadi orang yang beruntung?? Yakinkan pada diri kita sendiri bahwa “Aku Pasti Bisa, untuk berubah!!” and jangan lupa “Berdo’a, Berusaha, Berhasil”….

Read More......